CORETAN BANG ALI : 17 Agustus, Jangan Cuma Kibarkan Bendera, Kibarkan Juga Rasa Malu!
Oleh: Bang Ali
Setiap menjelang 17 Agustus, negeri ini mendadak berubah warna. Merah putih berkibar di mana-mana. Gapura dicat ulang, umbul-umbul dipasang, panitia dibentuk, proposal diedarkan, grup WhatsApp RT yang sebelas bulan hanya berisi ucapan "Selamat pagi" mendadak aktif seperti baru mendapat suntikan semangat nasionalisme.
Semangat kemerdekaan memang selalu indah dilihat. Sayangnya, kadang hanya indah dipandang.
Kemerdekaan Republik Indonesia tidak lahir karena lomba makan kerupuk, tarik tambang, atau panjat pinang. Negeri ini berdiri di atas pengorbanan yang tak ternilai. Para pejuang rela kehilangan harta, keluarga, masa muda, bahkan nyawa demi satu nama: Indonesia.
Banyak yang namanya harum dalam buku sejarah, tetapi lebih banyak lagi yang gugur tanpa nisan, tanpa gelar pahlawan, bahkan tanpa dikenang.
Mereka berjuang agar anak cucunya hidup merdeka.
Bukan agar anak cucunya sibuk mencari alasan saat diajak kerja bakti.
Lucunya, setiap tanggal 17 Agustus kita lantang berteriak, "NKRI Harga Mati!"
Namun ketika ketua RT mengumumkan kerja bakti Minggu pagi...
Tiba-tiba satu kampung terserang penyakit langka bernama "ada acara."
Ada yang mendadak mengantar saudara.
Ada yang mendadak servis motor.
Ada yang mendadak sakit.
Yang lebih hebat lagi, ada yang sejak Sabtu malam sudah menghilang demi menghindari sapu dan cangkul.
Ajaibnya, penyakit itu langsung sembuh ketika ada acara mancing, touring, karaoke, atau diskon besar di pusat perbelanjaan.
Kalau alasan bisa diperlombakan, mungkin kita sudah juara dunia.
Pos ronda juga tak kalah lucu.
Bangunannya kokoh.
Catnya mengilap.
Lampunya terang.
Tetapi yang rajin hadir justru nyamuk, cicak, dan suara jangkrik.
Warganya mungkin sedang menjaga keamanan republik... dari balik selimut.
Ada pula yang paling vokal mengkritik kampung.
Katanya jalan rusak.
Selokan mampet.
Lingkungan kotor.
Tetapi ketika diajak bergotong royong, jawabannya selalu sama,
"Maaf, lagi ada kepentingan."
Padahal kepentingannya sering kali hanya rebahan sambil menggulir media sosial.
Lebih ironis lagi, kita sering melihat orang yang hafal suara knalpot tetangganya, tetapi lupa nama tetangganya sendiri.
Mobilnya keluar masuk setiap hari.
Pemiliknya muncul setahun tiga kali: saat pembagian sembako, pembagian daging kurban, dan pembagian bantuan.
Kalau tidak ada yang dibagikan, wajahnya lebih langka daripada gerhana matahari.
Namun satir kemerdekaan tidak berhenti di tingkat kampung.
Di gedung-gedung berpendingin udara, masih ada pejabat yang tega mencuri uang rakyat.
Korupsi bukan sekadar pelanggaran hukum.
Korupsi adalah pengkhianatan terhadap perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia.
Para pahlawan mempertaruhkan nyawa agar bangsa ini berdiri tegak.
Koruptor mempertaruhkan masa depan bangsa demi mempertebal rekening pribadi.
Para pejuang rela hidup menderita agar rakyat bisa sejahtera.
Koruptor justru membuat rakyat menderita agar dirinya hidup mewah.
Pahlawan meninggalkan warisan kemerdekaan.
Koruptor meninggalkan warisan utang, kemiskinan, dan hilangnya kepercayaan rakyat.
Mereka memang tidak mengangkat senjata melawan bangsa sendiri.
Tetapi setiap rupiah uang rakyat yang dicuri adalah luka baru bagi cita-cita kemerdekaan.
Karena itu, menghormati jasa para pahlawan bukan hanya dengan mengheningkan cipta selama satu menit.
Bukan pula sekadar memasang bendera paling tinggi.
Tetapi dengan bekerja jujur, menjaga amanah, menolak korupsi, peduli terhadap lingkungan, dan mau bergotong royong.
Jangan terlalu sering berteriak nasionalisme jika menyapa tetangga saja terasa berat.
Jangan sibuk menghafal lagu perjuangan kalau menjaga kebersihan lingkungan masih harus dipaksa.
Jangan mengaku cinta Indonesia kalau kepedulian kepada sesama hanya setipis tisu.
Sebab perjuangan hari ini bukan lagi mengangkat bambu runcing.
Musuh kita kini bernama egoisme, apatis, korupsi, keserakahan, dan kebiasaan berkata, "Yang penting saya."
Indonesia tidak membutuhkan lebih banyak orang yang pandai berpidato tentang cinta tanah air.
Indonesia membutuhkan lebih banyak warga yang mau memungut sampah tanpa disuruh, datang ronda tanpa dipanggil, ikut kerja bakti tanpa mencari alasan, serta pejabat yang takut mengkhianati amanah rakyat.
Mari jadikan 17 Agustus bukan sekadar pesta tahunan.
Jadikan ia momentum untuk bertanya kepada diri sendiri:
"Kalau para pahlawan bisa melihat kita hari ini, apakah mereka akan tersenyum bangga... atau justru menggelengkan kepala?
Semoga merah putih tidak hanya berkibar di tiang bendera, tetapi juga berkibar di dalam hati setiap warga negara—dengan semangat gotong royong, kejujuran, kepedulian, dan keberanian menjaga amanah. Sebab itulah cara paling sederhana untuk menghormati perjuangan para pahlawan.
Related Articles