Opini Featured

Coretan Bang Ali: Karang Taruna Mati Suri, Pemimpin Instan Bermunculan

Share berita ini
Coretan Bang Ali: Karang Taruna Mati Suri, Pemimpin Instan Bermunculan
Coretan Bang Ali: Karang Taruna Mati Suri, Pemimpin Instan Bermunculan
Kopi boleh pahit. Kritik juga boleh pedas. Tapi jangan sampai regenerasi kepemimpinan ikut hangus karena warganya terlalu malas untuk peduli.

ASANNews//-- Pagi itu, Warung Redaksi belum ramai. Kopi hitam mengepul, gorengan tinggal beberapa biji, sementara Bang Ali, Mbah Bejo, Dony, dan Gogon sudah duduk mengelilingi meja.

Bang Ali:

“Mbok jangan cuma ngomongin harga cabai. Sesekali kita ngomongin harga seorang pemimpin. Sekarang ini yang mahal bukan pemimpinnya, tapi kualitas kepemimpinannya.”

Gogon:

“Lho, memang pemimpin bisa dibeli, Bang?”

Bang Ali:

“Bukan dibeli, Gon. Kadang malah ditunjuk karena hukuman. Orang yang selama ini tidak pernah kelihatan dalam kegiatan lingkungan, tiba-tiba ketika pemilihan RT atau RW malah muncul.”

Dony:

“Wah, itu namanya dari ghosting langsung jadi ketua, Bang.”

Mbah Bejo:

“Lha iya. Rapat RT ora tau teko, kerja bakti ora tau katon, kegiatan warga ora tau melu. Tapi begitu ada masalah, komentarnya paling depan.”

Gogon:

“Berarti dia punya ilmu gaib, Mbah. Tidak pernah hadir tapi tahu semua kejadian.”

Bang Ali:

“Nah, itu yang menarik. Ada tipe warga yang kalau rapat tidak datang, tetapi setelah rapat selesai justru paling tahu hasil rapat. Bahkan kadang lebih tahu daripada yang hadir.”

Mereka pun tertawa.

Dony:

“Masalahnya bukan sekadar siapa yang jadi ketua RT atau RW. Yang lebih serius itu proses mencetak pemimpinnya. Di situlah Karang Taruna sebenarnya punya peran besar.”

Mbah Bejo:

“Betul. Karang Taruna itu bukan cuma panitia tujuhbelasan, lomba makan kerupuk, atau bikin acara dangdut.”

Bang Ali:

“Persis! Karang Taruna seharusnya menjadi laboratorium kepemimpinan anak muda di lingkungan. Di sana anak muda belajar mengorganisasi kegiatan, menyusun program, mengelola anggaran, menyelesaikan konflik, berbicara di depan warga, dan bertanggung jawab terhadap keputusan.”

Gogon:

“Jadi sebelum jadi ketua RT, harus magang dulu di Karang Taruna?”

Bang Ali:

“Tidak harus. Tapi kalau ada ruang untuk belajar memimpin, kenapa tidak dimanfaatkan?”

Dony:

“Kalau Karang Taruna vakum, regenerasi otomatis terganggu. Anak-anak muda akhirnya tidak punya pengalaman berorganisasi. Begitu suatu saat lingkungan membutuhkan pemimpin baru, kita kebingungan mencari siapa yang siap.”

Mbah Bejo menyeruput kopi.

Mbah Bejo:

“Masalahnya warga sendiri kadang tidak peduli. Selama lampu jalan menyala, sampah diangkut, keamanan aman, orang merasa urusan lingkungan bukan urusan mereka.”

Bang Ali:

“Betul. Kita sering baru mencari pemimpin ketika ada masalah. Padahal pemimpin tidak lahir mendadak pada malam pemilihan.”

Gogon:

“Berarti pemimpin itu seperti nasi goreng, Mbah? Tidak bisa tiba-tiba matang. Harus dimasak dulu.”

Mbah Bejo:

“Bener. Bedanya kalau nasi goreng gagal, paling rasanya tidak enak. Kalau kepemimpinan gagal, satu lingkungan bisa ikut merasakan.”

Bang Ali:

“Nah, itu!”

Pemimpin Jangan Sekadar Karena ‘Hukuman’

Bang Ali kemudian menaruh gelas kopinya.

“Yang lebih memprihatinkan adalah kalau jabatan RT atau RW diberikan karena ‘hukuman sosial’. Misalnya, karena warga yang aktif sudah capek mengurus lingkungan, akhirnya orang yang selama ini tidak aktif justru diminta menjadi ketua.”

Dony:

“Kalimatnya biasanya begini: ‘Sudah, dia saja yang jadi ketua. Biar tahu susahnya ngurus warga.’”

Gogon:

“Waduh. Itu bukan pemilihan, Bang. Itu operasi balas dendam.”

Mbah Bejo:

“Padahal jabatan RT/RW bukan tempat menghukum orang. Itu amanah.”

Bang Ali:

“Benar. Kalau seseorang tidak aktif, tidak pernah hadir dalam musyawarah, dan tidak punya waktu untuk lingkungan, jangan kemudian dipaksa menjadi pemimpin hanya karena warga yang aktif sudah kehabisan tenaga.”

“Pemimpin harus dipilih karena integritas, kemampuan berkomunikasi, kemauan bekerja, kepedulian, dan kesediaan hadir ketika warga membutuhkan.”

Yang Tidak Pernah Hadir, Kok Paling Tahu?

Gogon:

“Tapi saya punya satu pertanyaan, Bang. Kenapa orang yang jarang hadir rapat sering justru paling kritis setelah rapat?”

Dony:

“Karena kalau hadir harus ikut bertanggung jawab.”

Mbah Bejo:

“Lha kalau tidak hadir kan enak. Tidak ikut mengambil keputusan, tapi bisa mengkritik keputusan.”

Bang Ali tertawa.

“Ini penyakit klasik. Tidak hadir ketika gagasan dibahas, tetapi hadir ketika keputusan dikritik.”

“Boleh mengkritik. Bahkan kritik itu penting. Tetapi kritik yang sehat harus disertai kepedulian dan solusi. Jangan hanya menjadi komentator dari pinggir lapangan.”

Karang Taruna Jangan Dibiarkan Mati Suri

Menurut Bang Ali, persoalan Karang Taruna tidak boleh dianggap sepele.

“Kalau organisasi kepemudaan mati suri bertahun-tahun, yang hilang bukan cuma kegiatan. Yang hilang adalah proses regenerasi kepemimpinan.”

“Anak muda tidak mendapatkan pengalaman memimpin. Tidak terbiasa bermusyawarah. Tidak belajar mengelola konflik. Tidak belajar mengurus kegiatan. Akhirnya ketika generasi lama mulai lelah, lingkungan mencari pemimpin baru dengan cara dadakan.”

Dony:

“Jadi masalahnya bukan tidak ada anak muda. Tapi tidak ada ruang untuk menyiapkan mereka.”

Bang Ali:

“Tepat.”

Lalu Solusinya Apa?

Mbah Bejo:

“Kalau begitu, jangan cuma mengkritik. Solusinya apa?”

Bang Ali langsung menjawab.

“Pertama, Karang Taruna harus dihidupkan kembali, bukan hanya ketika menjelang 17 Agustus.”

“Kedua, buat kegiatan sederhana tetapi rutin. Olahraga, sosial, kebersihan lingkungan, pelatihan, kegiatan UMKM, digitalisasi, sampai kegiatan kebencanaan.”

“Ketiga, libatkan anak muda dalam pengambilan keputusan lingkungan. Jangan hanya dipanggil kalau butuh tenaga.”

“Keempat, mulai mentoring kepemimpinan. Anak muda yang punya potensi diberi kesempatan memimpin kegiatan kecil terlebih dahulu.”

“Kelima, warga harus mengubah budaya. Jangan memilih RT/RW hanya karena ‘yang penting ada’. Pilih orang yang mau bekerja dan mampu membangun komunikasi.”

“Dan yang paling penting, jangan menyerahkan seluruh urusan lingkungan kepada satu-dua orang yang selama ini aktif.”

Gogon:

“Kalau semua warga aktif, nanti ketuanya malah bingung, Bang.”

Bang Ali:

“Tidak masalah. Ketua yang baik justru senang kalau warganya aktif. Yang berbahaya itu ketua sibuk sendirian, warga sibuk mengomentari.”

Warung kembali dipenuhi tawa.

Mbah Bejo:

“Jadi kesimpulannya, pemimpin itu bukan orang yang paling banyak bicara?”

Bang Ali:

“Bukan.”

Dony:

“Bukan pula yang paling sering mengkritik?”

Bang Ali:

“Bukan.”

Gogon:

“Terus yang paling sering datang rapat?”

Bang Ali:

“Belum tentu juga.”

Bang Ali tersenyum.

“Pemimpin adalah orang yang mau hadir, mau mendengar, berani mengambil tanggung jawab, mampu bekerja bersama, dan ketika ada masalah tidak sibuk mencari kambing hitam.”

“Dan Karang Taruna adalah salah satu tempat terbaik untuk menanamkan semua itu sejak muda.”

Mbah Bejo berdiri sambil mengambil gorengan terakhir.

“Kalau begitu mulai besok kita hidupkan Karang Taruna.”

Gogon langsung menyela.

“Setuju, Mbah! Tapi rapat pertamanya jangan pagi-pagi. Saya takut ketiduran.”

Bang Ali:

“Lha, kamu ini contoh nyata kenapa regenerasi kepemimpinan perlu dilatih!”

Tawa kembali pecah di Warung Redaksi.

Catatan Bang Ali:

Lingkungan yang sehat tidak lahir dari pemimpin yang muncul secara kebetulan. Ia lahir dari warga yang peduli, organisasi yang hidup, dan generasi muda yang diberi kesempatan untuk belajar memimpin. Jangan menunggu pemimpin lama kehabisan tenaga baru sibuk mencari pengganti. Regenerasi harus disiapkan sebelum kursi kepemimpinan kosong.

Chat with us on WhatsApp