Terkini Breaking Featured

Semangat Kemerdekaan Menggema di RW 03 Bangetayu Wetan, Guyub Warga Jadi Kekuatan Bangsa

Share berita ini
Semangat Kemerdekaan Menggema di RW 03 Bangetayu Wetan, Guyub Warga Jadi Kekuatan Bangsa
Semangat Kemerdekaan Menggema di RW 03 Bangetayu Wetan, Guyub Warga Jadi Kekuatan Bangsa
Dari kampung, dari RT, dari RW, persatuan Indonesia harus terus dirawat. Karena kemerdekaan diwariskan dengan darah, dan jangan kita balas dengan ketidakpedulian.

BANGETAYU WETAN, SEMARANG — Merah bukan hanya warna kaos yang dikenakan warga. Pagi itu, merah seolah menjadi warna semangat yang mengikat kebersamaan warga RW 03 Kelurahan Bangetayu Wetan dalam puncak peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Minggu pagi, suasana di lingkungan RW 03 berubah semarak. Warga RT 05, Perum Korpri Bayu Prasetya, kompak mengenakan kaos merah dan mengikuti rangkaian kegiatan mulai pukul 07.00 WIB.

Di bawah komando Ketua RT 05, Lilik Widodo, warga memulai jalan santai dari lapangan fasilitas umum (fasum) Blok A. Dengan langkah santai—karena namanya memang jalan santai, bukan jalan mengejar mantan—warga menyusuri jalan kompleks sebelum kembali ke titik finis.

Sesampainya di lapangan, kegiatan dilanjutkan dengan senam pagi bersama instruktur berpengalaman. Gerakan demi gerakan diikuti warga dengan penuh semangat. Ada yang gerakannya presisi mengikuti instruktur, ada pula yang mungkin masih mencari-cari sinyal antara otak dan lutut.

Namun semuanya tetap tersenyum.

Setelah berkeringat, warga kemudian menikmati sarapan bersama dengan menu nasi ayam Semarang. Di sinilah terlihat bahwa perjuangan kemerdekaan zaman sekarang juga membutuhkan energi: semangat tanpa sarapan ternyata bisa membuat nasionalisme cepat lapar.

Suasana semakin meriah ketika musik mulai terdengar dan suara MC menggema. Pengundian doorprize pun dimulai, diselingi berbagai perlombaan yang mengundang gelak tawa.

Salah satu yang paling menghibur adalah lomba memindahkan bola untuk anak-anak usia dini.

Instruksi MC sudah jelas. Namun begitu perlombaan dimulai, para peserta ternyata memiliki tafsir masing-masing.

Ada yang menarik bola, ada yang berjalan berputar-putar, bahkan ada yang seolah sedang mengikuti lomba dengan aturan ciptaannya sendiri.

Penonton pun pecah tertawa.

Maklum, bagi anak-anak, yang penting bukan semata-mata menang. Yang penting lari, tertawa, dan membuat orang dewasa ikut bahagia.

Lomba kemudian berlanjut untuk anak-anak usia lebih besar, disusul lomba bapak-bapak dan ibu-ibu. Di sinilah suasana semakin hidup.

Tidak ada lagi sekat usia. Tidak ada lagi kesibukan pekerjaan. Tidak ada lagi urusan siapa paling sibuk.

Semua tumpah menjadi satu.

Saling menyemangati, saling menertawakan dengan cara yang sehat, saling membantu, dan yang paling penting—saling merasa memiliki lingkungan tempat mereka tinggal.

Semangat serupa juga terlihat di RT 02 di bawah komando Herwawan Prasetyo, RT 06 di bawah komando Tri Hariyanto, serta RT 03 yang dikomandoi Mulyadi. Berbagai kegiatan berlangsung dengan suasana meriah, penuh canda, dan sesekali menghadirkan tingkah peserta yang lebih lucu daripada acara lawak di televisi.

Jangan Sampai Kemerdekaan Hanya Jadi Penonton

Di balik kemeriahan tersebut, ada pesan yang sebenarnya jauh lebih serius.

Kegiatan lingkungan bukan sekadar lomba, jalan santai, senam, atau berebut doorprize.

Ia adalah cara sederhana untuk menjaga persatuan dan rasa memiliki.

Karena itu, ada satu hal yang layak direnungkan bersama.

Di setiap lingkungan selalu ada warga yang aktif, ada pula yang memilih menjadi penonton. Ketika kerja bakti, rapat, kegiatan sosial atau perayaan lingkungan digelar, sebagian sibuk menggerakkan kegiatan, sementara sebagian lainnya cukup menggerakkan jempol di grup WhatsApp.

Yang satu mengangkat kursi.

Yang lain mengangkat alasan.

Yang satu memasang tenda.

Yang lain memasang status: “Mohon maaf belum bisa hadir.”

Tentu setiap orang memiliki kesibukan dan alasan masing-masing. Tetapi jangan sampai budaya individualisme perlahan membuat kita lupa bahwa lingkungan yang nyaman tidak lahir dari kerja satu atau dua orang saja.

Tanah yang hari ini kita pijak bukan tanah yang jatuh dari langit begitu saja.

Di atas tanah ini pernah mengalir darah para pejuang.

Ada nenek moyang yang gugur di medan perang. Ada anak yang tidak pernah kembali kepada ibunya. Ada suami yang meninggalkan istrinya demi mempertahankan kemerdekaan. Ada saudara yang pergi dan hanya menyisakan nama serta doa.

Dan udara bebas yang hari ini kita hirup, barangkali pernah menjadi bagian dari bait-bait doa seorang ibu yang menunggu anaknya pulang, seorang istri yang menanti suaminya, atau seorang keluarga yang akhirnya hanya menerima kabar: gugur demi tanah air.

Maka sungguh ironis apabila setelah puluhan tahun kemerdekaan, kita justru menjadi terlalu sibuk dengan diri sendiri hingga tidak punya waktu beberapa jam untuk berkumpul dengan tetangga.

Kemerdekaan tidak hanya harus dirayakan.

Kemerdekaan juga harus diisi dengan kepedulian.

Tidak perlu selalu menjadi ketua. Tidak harus menjadi panitia. Tidak harus membawa sumbangan besar.

Datang ketika ada kegiatan sudah merupakan bentuk kepedulian.

Membantu mengangkat kursi adalah bentuk pengabdian.

Mengikuti kerja bakti adalah bentuk cinta lingkungan.

Menyapa tetangga adalah bentuk menjaga persaudaraan.

Dan sesekali ikut lomba meskipun sadar peluang menangnya setipis kertas nasi bungkus, juga merupakan bentuk menjaga kewarasan sosial.

Karena bangsa yang besar bukan hanya dibangun oleh orang-orang hebat.

Bangsa yang besar dibangun oleh orang-orang biasa yang mau peduli terhadap sesamanya.

Pagi di RW 03 Bangetayu Wetan akhirnya bukan sekadar tentang jalan santai, senam, nasi ayam, lomba dan doorprize.

Pagi itu menjadi pengingat bahwa kebersamaan adalah aset bangsa yang jauh lebih mahal daripada hadiah apa pun.

Jangan biarkan aset itu terkikis oleh ego, kesibukan, dan sikap “yang penting rumah saya aman.”

Sebab ketika persatuan mulai retak, yang pertama hilang bukan sekadar kegiatan kampung.

Yang hilang adalah rasa percaya kepada sesama.

Dirgahayu Republik Indonesia ke-81.

Mari merdeka bukan hanya dari penjajahan, tetapi juga dari sikap tidak peduli.

Dari kampung, dari RT, dari RW, persatuan Indonesia harus terus dirawat. Karena kemerdekaan diwariskan dengan darah, dan jangan kita balas dengan ketidakpedulian.

Chat with us on WhatsApp