Latsarmil untuk Manajer KDMP: Mau Jaga Koperasi atau Siap Berangkat ke Medan Tempur?

Terkini 30 Jun 2026 15:37 3 min read 241 views By Bang_Ali

Share berita ini

Latsarmil untuk Manajer KDMP: Mau Jaga Koperasi atau Siap Berangkat ke Medan Tempur?
Karena toko yang sukses bukan yang paling rapi barisannya, melainkan yang paling ramai pelanggannya.

Almassakanusantara.com --Program pelatihan dasar militer (Latsarmil) bagi calon manajer Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) menuai beragam tanggapan. Tujuan yang disampaikan pemerintah terdengar mulia: membentuk karakter, menanamkan cinta tanah air, meningkatkan disiplin, memperkuat mental, serta membangun kerja sama tim.

 

Namun, pertanyaan yang mengemuka di ruang publik cukup sederhana: apakah semua tujuan tersebut harus ditempuh melalui pelatihan militer?

 

Disiplin memang penting. Mental yang kuat juga menjadi modal seorang pemimpin. Tetapi menjadi manajer koperasi berbeda dengan menjadi prajurit. Seorang manajer akan lebih sering berhadapan dengan laporan keuangan, pembukuan, pemasaran, pelayanan konsumen, dan strategi bisnis dibandingkan latihan baris-berbaris.

 

Di media sosial, masyarakat bahkan ramai membuat parodi. Ada yang bercanda, "Kalau beli minyak goreng di KDMP harus hormat dulu?" Ada pula yang menyindir, "Jangan-jangan stok beras dicek pakai aba-aba siap gerak."

 

Humor-humor itu lahir karena publik melihat adanya jarak antara jenis pelatihan dengan tugas yang akan dijalankan.

 

Yang lebih memprihatinkan, pelaksanaan Latsarmil dilaporkan telah memakan korban jiwa. Lima generasi muda dikabarkan meninggal dunia saat mengikuti pelatihan. Mereka bukan gugur di medan perang, bukan pula dalam operasi menjaga perbatasan, melainkan ketika dipersiapkan menjadi pengelola koperasi desa.

 

Inilah ironi yang sulit diabaikan. Setiap kehilangan nyawa dalam program pelatihan tentu menjadi evaluasi yang sangat serius.

 

Di sisi lain, muncul pula informasi bahwa terdapat peserta perempuan yang sedang mengandung ikut terdaftar dalam program tersebut. Bila benar demikian, maka aspek keselamatan, kesehatan, dan penyesuaian metode pelatihan semestinya menjadi perhatian utama.

 

Membangun karakter tidak identik dengan pendekatan militer. Banyak pengusaha sukses, CEO perusahaan besar, maupun pendiri usaha nasional yang berhasil membangun bisnis melalui pendidikan manajemen, pengalaman lapangan, kepemimpinan, serta kemampuan membaca pasar—bukan melalui latihan fisik ala militer.

 

Karena itu, apabila tujuan utama KDMP adalah membangun koperasi desa yang sehat dan profesional, maka kebutuhan paling mendesak justru menghadirkan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi di bidang ekonomi, akuntansi, manajemen, bisnis, pemasaran, koperasi, dan kewirausahaan.

 

Sarjana berlatar belakang ekonomi dan bisnis tentu lebih memahami penyusunan laporan keuangan, analisis usaha, pengelolaan modal, manajemen risiko, hingga strategi pengembangan koperasi. Kompetensi inilah yang akan menentukan apakah koperasi mampu bertahan, berkembang, atau justru berhenti beroperasi.

 

Karakter memang penting. Disiplin juga tidak bisa ditawar. Tetapi disiplin dapat dibentuk melalui pendidikan kepemimpinan, pelatihan manajemen profesional, etika pelayanan publik, serta pembinaan organisasi tanpa harus menghilangkan fokus terhadap kompetensi inti yang dibutuhkan.

 

Pada akhirnya, masyarakat tentu berharap KDMP menjadi koperasi yang kuat secara bisnis, bukan sekadar kuat saat apel pagi.

 

Sebab koperasi tidak dinilai dari seberapa tegap manajernya berdiri saat penghormatan, melainkan dari seberapa sehat neraca keuangannya, seberapa baik pelayanannya kepada masyarakat, dan seberapa besar manfaat yang mampu diberikan bagi perekonomian desa.

 

Karena toko yang sukses bukan yang paling rapi barisannya, melainkan yang paling ramai pelanggannya.

Penulis: Ali Mahfudi, SE., SH., 

Almassaka Nusantara

Recent Articles

Popular Articles

Chat with us on WhatsApp