OBROLAN DI WARUNG REDAKSI BANG ALI
Siang itu, di Warung Redaksi Bang Ali, empat gelas kopi mengepul. Di luar, obrolan Pilkades mulai ramai. Ada yang sibuk memasang spanduk, membentuk barisan, dan mendadak rajin menyapa warga yang bertahun-tahun tak pernah diingat namanya.
Bang Ali: “Pak Tua, Pilkades sebentar lagi ramai. Menurut panjenengan, rakyat sebaiknya memilih siapa?”
Pak Tua: “Pilihlah orang yang jelas pengabdiannya, bukan yang baru jelas baliho dan tim suksesnya. Jangan sampai wajahnya terpampang di setiap tikungan, tetapi jasanya cuma terdengar dari pengeras suara.”
Mas JM: “Betul, Pak! Ada calon yang sebelum pencalonan cuma mengangguk dari atas motor. Begitu mendaftar, mendadak turun ke gang-gang dan akrab dengan warga.”
Mas Rayap Deso: “Program pendekatan berbasis kalender Pilkades. Masa berlakunya sampai hari pencoblosan. Setelah itu, nomor kita kembali menjadi misteri seperti anggaran yang katanya transparan!”
Bang Ali: “Karena itu, jangan cuma mencatat nama dan nomor urut. Periksa rekam jejak, hasil kerja, dan bukti pengabdiannya. Nomor bisa diingat dengan jari, tetapi kualitas pemimpin harus diuji dengan akal.”
Mas JM: “Masalahnya, ada warga yang tahu kinerja calon, tetapi tetap memilih karena saudara, teman dekat, atau satu kelompok.”
Bang Ali: “Kalau begitu, yang dipilih bukan kepala desa, melainkan kepala kelompok. Desa itu bukan arisan keluarga yang ketuanya boleh berganti asal masih satu lingkaran.”
Mas Rayap Deso: “Begitu pula alasan, ‘Orangnya baik.’ Baik kepada siapa? Kalau hanya kepada tim sukses, sementara warga lain dipersulit, jangan-jangan kebaikannya memakai sistem zonasi.”
Pak Tua: “Prestasi petahana harus diakui. Jika pembangunan nyata dan pelayanan berjalan, jangan ditolak hanya karena ingin ganti orang. Sebaliknya, jika kinerjanya buruk, rakyat berhak mengevaluasi. Bantuan sekali bukan alasan menghapus semua kekurangan; jabatan kepala desa bukan hadiah undian.”
Mas JM: “Kalau calon baru bagaimana? Masa harus kalah dari yang pernah menjabat?”
Bang Ali: “Tidak. Calon baru punya kesempatan yang sama, tetapi jangan hanya menjual kata perubahan. Tanyakan: perubahan menuju apa, programnya bagaimana, anggarannya dari mana, dan manfaatnya untuk siapa? Jangan sampai yang berubah cuma warna baliho dan ukuran font namanya.”
Mas Rayap Deso: “Jika semua menjanjikan jalan mulus, irigasi lancar, bantuan merata, dan pelayanan cepat, bedakan rencana yang masuk akal dari janji yang hanya disuarakan lewat pengeras suara.”
Pak Tua: “Jangan sampai yang dibangun lebih dulu justru jalan menuju rumah tim sukses!”
Keempatnya tertawa. Bang Ali menyeruput kopi, lalu meletakkan gelasnya perlahan.
Bang Ali: “Yang lebih berbahaya adalah politik uang. Suara dibeli sesaat, lalu rakyat berharap pelayanan baik bertahun-tahun. Itu seperti menjual sawah untuk membeli sebungkus nasi.”
Mas JM: “Uang pemberian habis sehari, dampak salah memilih bisa bertahun-tahun. Amplopnya tipis, akibatnya bisa setebal proposal pembangunan.”
Mas Rayap Deso: “Jangan sibuk menghitung isi amplop, tetapi lupa menghitung isi kepala. Kapasitas calon harus diperiksa, bukan amplopnya saja.”
Pak Tua: “Dan jangan biarkan perbedaan pilihan memutus persaudaraan. Setelah Pilkades, yang menang dan kalah tetap bertetangga. Kepala desa bukan pemilik desa, melainkan pelayan semua warga.”
Mas JM: “Jadi, rakyat jangan asal pilih?”
Bang Ali: “Jangan malas berpikir. Periksa rekam jejak, nilai akhlak, ukur kemampuan, bandingkan prestasi, dan uji janji. Jangan mengganti pemimpin yang terbukti baik hanya karena bosan, tetapi jangan mempertahankan pemimpin buruk hanya karena sungkan. Desa bukan sinetron; tokohnya tidak harus dipertahankan hanya karena sudah lama tayang.”
Mas Rayap Deso: “Calon yang mendadak rajin datang boleh disambut, kopinya boleh disuguhkan, tetapi jangan sampai pikiran ikut disuguhkan gratis! Kalau semua calon tiba-tiba hafal nama kita, mungkin bukan ingat, melainkan sedang menghitung suara.”
Pak Tua: “Kopi boleh gratis, suara jangan diberikan kepada siapa pun yang belum layak! Kopi pahit hanya sebentar, tetapi salah pilih bisa pahit sampai akhir masa jabatan.”
Bang Ali: “Semoga kopi habis, tetapi akal sehat tidak. Pilih bukan yang paling pandai merayu, melainkan yang paling pantas memegang amanah. Pemimpin dinilai dari banyaknya masalah warga yang benar-benar diselesaikan, bukan dari banyaknya tangan yang berjabat.”
Mas JM: “Salam demokrasi!”
Mas Rayap Deso: “Salam investigasi!”
Pak Tua: “Salam budaya dan akal sehat!”
Bang Ali: “Dalam Pilkades, rakyat boleh berbeda pilihan, tetapi jangan kehilangan pikiran. Jangan biarkan demokrasi berubah menjadi lomba siapa paling banyak traktir, lalu desa membayar tagihannya.”
Catatan penutup Bang Ali
Pemimpin bisa berganti, baliho bisa diturunkan, dan janji kampanye bisa terlupakan. Namun, akibat dari sebuah pilihan akan dirasakan masyarakat.
Pilkades bukan lomba memilih siapa yang paling dekat dengan kita, melainkan kesempatan memilih siapa yang paling mampu mengabdi kepada desa.
Warung Redaksi Bang Ali — Ngopi boleh pahit, pikiran jangan ikut pahit. Pilihan harus cerdas, bukan asal dekat.