Wisata Breaking

DI BALIK KABUT GEDONGSONGO: LEGENDA DASAMUKA DAN SUARA WARGA DUSUN PENYANGGA Bagian ke 1

Share berita ini
DI BALIK KABUT GEDONGSONGO: LEGENDA DASAMUKA DAN SUARA WARGA DUSUN PENYANGGA Bagian ke 1
DI BALIK KABUT GEDONGSONGO: LEGENDA DASAMUKA DAN SUARA WARGA DUSUN PENYANGGA Bagian ke 1
Ketika Gedongsongo Kembali Memanggil Suara Leluhur

BANDUNGAN, KABUPATEN SEMARANG. ASN News

Rencana pengembangan panas bumi atau geothermal Gunung Ungaran kembali menempatkan kawasan Gedongsongo dan dusun-dusun di lereng gunung dalam perhatian publik. Narasi penolakan beredar di media sosial, disertai foto-foto candi dan seruan untuk menjaga Gunung Ungaran dari potensi kerusakan lingkungan maupun budaya.

Pemerintah menyebut pengembangan PLTP Gunung Ungaran masih berada pada tahap kajian dan eksplorasi. Kapasitas yang direncanakan sekitar 55 MW, sedangkan lokasi pengeboran belum ditetapkan secara final. Pemerintah juga menyatakan perlindungan lingkungan dan kawasan cagar budaya menjadi bagian dari kajian.

Dalam salah satu penjelasan PLN, lokasi rencana PLTP disebut berada sekitar dua kilometer dari perimeter Candi Gedongsongo. Namun, lokasi tersebut masih dapat berubah berdasarkan hasil kajian. Karena itu, anggapan bahwa candi akan menjadi lokasi pembangunan geothermal tidak dapat diperlakukan sebagai fakta yang telah terverifikasi.

Gedongsongo merupakan kompleks peninggalan masa Mataram Kuno di lereng Gunung Ungaran. Kawasan ini bukan sekadar kumpulan bangunan batu, melainkan bagian dari lanskap sejarah dan budaya yang telah bertahan selama berabad-abad.

Di tengah perhatian terhadap proyek geothermal, Gedongsongo juga kembali dihubungkan dengan legenda masyarakat tentang Hanoman dan Dasamuka. Dalam cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi, kawasan Gunung Ungaran disebut sebagai tempat Dasamuka ditimbun oleh Hanoman.

Kisah tersebut merupakan legenda masyarakat, bukan fakta arkeologis yang dapat disamakan dengan catatan sejarah pembangunan candi. Tidak ada bukti sejarah yang memastikan kisah itu sebagai peristiwa faktual. Namun, legenda tetap menjadi bagian dari ingatan kolektif dan cara masyarakat memaknai kesakralan serta kebesaran Gunung Ungaran.

Persoalan utama bagi masyarakat lereng gunung tidak berhenti pada angka kapasitas listrik atau jarak proyek dari kawasan cagar budaya. Gunung bagi mereka adalah sumber air, lahan pertanian, tempat mencari penghidupan, sekaligus ruang hidup yang menyimpan cerita leluhur.

Kekhawatiran terhadap sumber air dan keberlangsungan aktivitas masyarakat menjadi salah satu perhatian dalam proses kajian pengembangan PLTP Gunung Ungaran. Warga mungkin tidak akrab dengan istilah reservoir geothermal, directional drilling, atau capacity factor, tetapi mereka memahami dampak yang mungkin terjadi jika sumber air berubah.

“Jika air berubah, kehidupan mereka ikut berubah.”

Karena itu, suara masyarakat penyangga perlu ditempatkan sebagai bagian penting dalam pembahasan proyek. Mereka adalah petani yang menggantungkan hidup pada tanah, warga yang mengambil air dari mata air, serta keluarga yang setiap hari melihat Gunung Ungaran dari depan rumah.

Pertanyaan yang perlu dijawab bukan hanya apakah geothermal dapat menghasilkan listrik, melainkan apa dampaknya terhadap masyarakat yang bergantung pada lereng gunung tersebut. Kajian juga perlu menjelaskan secara terbuka risiko terhadap air, tanah, ekosistem, aktivitas pertanian, serta kawasan budaya.

Rencana geothermal membuat Gedongsongo semakin ramai diperbincangkan. Orang-orang mulai mencari sejarah candi, legenda Hanoman dan Dasamuka, serta keberadaan dusun-dusun yang selama ini hidup dalam bayang-bayang gunung.

Situasi ini memunculkan pertanyaan: apakah masyarakat benar-benar sedang menyelamatkan Gedongsongo, atau baru menyadari nilainya setelah merasa akan kehilangan sesuatu?

Kekhawatiran warga tidak layak diabaikan, tetapi informasi yang belum terbukti juga tidak boleh diperlakukan sebagai fakta. Pemerintah perlu membuka seluruh data kajian, menjelaskan lokasi dan tahapan proyek, serta memastikan proses pengambilan keputusan melibatkan masyarakat penyangga secara bermakna.

Gunung tidak memiliki akun media sosial, mikrofon, atau kemampuan untuk menyampaikan keberatan. Ia hanya menampung air, menumbuhkan tanaman, menjadi rumah bagi kehidupan, dan menyimpan cerita manusia yang datang silih berganti.

Karena itu, pilihan antara energi dan kelestarian tidak semestinya dipertentangkan secara sederhana. Pembangunan dapat dipertimbangkan hanya jika risiko lingkungan dan budaya diuji secara terbuka, dampaknya dapat dikendalikan, dan kehidupan masyarakat tidak dikorbankan.

Jika suatu hari suara mesin terdengar di lereng Ungaran, suara itu tidak boleh lebih keras daripada suara masyarakat yang sejak lama hidup di sana. Gedongsongo juga tidak boleh baru dibela setelah kerusakan terjadi.

Sebab gunung mungkin diam. Namun masyarakat yang hidup di bawahnya tidak akan lupa ketika air mereka berubah, tanah mereka terusik, dan cerita leluhur mereka kehilangan tempat berpijak.

Ekspedisi ini belum selesai.

Langkah berikutnya bukan mencari siapa yang paling keras berteriak di media sosial, melainkan turun ke dusun-dusun penyangga, duduk bersama masyarakat, memeriksa data, dan mendengar bagaimana mereka sendiri membaca masa depan Gunung Ungaran.

Bang_Ali_ Jurnalis. 

Bersambung... 

Chat with us on WhatsApp