SITUS ARCA SIWA KALIALANG, JEJAK PERADABAN MATARAM KUNO YANG MASIH BERDIRI KOKOH DI LERENG UNGARAN

Wisata 03 Jun 2026 10:18 3 min read 20 views By Bang_Ali

Share berita ini

SITUS ARCA SIWA KALIALANG, JEJAK PERADABAN MATARAM KUNO YANG MASIH BERDIRI KOKOH DI LERENG UNGARAN
"Warisan sejarah seperti ini bukan hanya milik warga Langensari, tetapi milik seluruh bangsa. Kalau bukan kita yang menjaga, siapa lagi?" ujarnya.

ALMASSAKANUSANTARA. COM- Di tengah sejuknya lereng Gunung Ungaran, tepatnya di wilayah Langensari, Kalialang, Kabupaten Semarang, sebuah peninggalan sejarah berdiri kokoh menantang zaman. Sebuah arca Siwa bertangan empat, lengkap dengan mahkota dan simbol trisula, masih terawat hingga kini, menjadi saksi bisu perjalanan panjang peradaban Hindu Mataram Kuno yang pernah berkembang di kawasan ini.

 

Tidak ada catatan pasti kapan arca tersebut pertama kali ditemukan atau didirikan. Namun sejumlah sumber dan kajian sejarah meyakini bahwa situs ini berasal dari sekitar abad ke-8 hingga ke-9 Masehi, masa ketika Kerajaan Mataram Kuno berkembang di wilayah Jawa Tengah.

 

Di sekitar arca terdapat sebuah jaladwara atau bak batu yang diduga digunakan sebagai tempat penyucian dalam ritual keagamaan Hindu kuno. Selain itu, terdapat pula dua jaladwara di bagian sudut lokasi. Seluruh situs tersebut masih terawat dengan baik berkat kepedulian masyarakat setempat.

 

Menelusuri sejarah Langensari seolah membuka lembaran masa lalu yang belum sepenuhnya terungkap. Menariknya, kawasan ini memiliki tiga wilayah yang namanya memiliki keterkaitan erat dengan unsur air, yang dalam tradisi Hindu kuno sering menjadi bagian penting dalam tata ruang pusat pemerintahan maupun kawasan suci.

 

Pertama, Kalialang atau Kaliang yang dapat dimaknai sebagai "sungai suci". Kedua, Kalisari yang berarti "sungai keindahan". Ketiga, Kalidoh yang dapat diartikan sebagai "sungai yang berlimpah".

 

Bagi sebagian peneliti dan pegiat sejarah, keberadaan tiga wilayah dengan karakteristik tersebut bukanlah sesuatu yang kebetulan. Dalam konsep tata ruang kerajaan Hindu Jawa Kuno, sumber air dan sungai memiliki kedudukan penting sebagai penyangga kehidupan, pusat ritual, sekaligus simbol kesuburan dan kemakmuran.

 

Apakah kawasan Langensari pernah menjadi bagian penting dari pusat pemerintahan atau kawasan elit Mataram Kuno? Pertanyaan itu masih membutuhkan penelitian arkeologis yang lebih mendalam. Namun berbagai petunjuk yang ada menunjukkan bahwa kawasan ini memiliki potensi sejarah yang sangat besar.

 

Secara geografis, Kalialang juga berada dalam jalur sebaran berbagai situs bersejarah di Kabupaten Semarang, seperti Candi Ngempon, Candi Gedong Songo, Arca Ganesha Bergas Lor, Situs Gedubugan, hingga Situs Batu Lembu Lemah Abang. Sebaran ini memperlihatkan bahwa kawasan lereng Ungaran sejak dahulu merupakan wilayah penting dalam perkembangan peradaban Jawa Kuno.

 

Sesuai Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, setiap penemuan benda, bangunan, struktur, atau situs yang diduga memiliki nilai sejarah wajib dilaporkan kepada instansi yang berwenang, termasuk Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Tengah, agar dapat dilakukan penelitian dan pelestarian lebih lanjut.

 

Mas Priyo, juru kunci situs, berharap perhatian terhadap peninggalan leluhur ini semakin besar, baik dari pemerintah maupun masyarakat.

 

"Warisan sejarah seperti ini bukan hanya milik warga Langensari, tetapi milik seluruh bangsa. Kalau bukan kita yang menjaga, siapa lagi?" ujarnya.

 

Menurutnya, tradisi penghormatan kepada leluhur masih terus dijaga oleh masyarakat setempat. Setiap malam Jumat Kliwon, warga mengadakan doa bersama di lokasi situs untuk mendoakan para leluhur. Selain itu, saat berlangsungnya merti dusun maupun pertunjukan reyog, masyarakat juga mengirim sesaji sebagai bentuk rasa syukur atas ketentraman dan keselamatan yang mereka rasakan selama ini.

 

Di tengah derasnya arus modernisasi, Situs Arca Siwa Kalialang mengingatkan bahwa sebuah bangsa tidak hanya dibangun oleh masa depan, tetapi juga oleh kemampuannya menjaga jejak masa lalu. Di balik batu-batu kuno yang sunyi itu, tersimpan kisah panjang tentang peradaban, kepercayaan, dan identitas yang layak untuk terus digali dan diwariskan kepada generasi mendatang.

Almassaka Nusantara

Recent Articles

Popular Articles

Chat with us on WhatsApp