Coretan Bang Ali: Telomoyo, Tempat Kabur Sejenak dari Drama Dunia
Pagi itu warung redaksi Bang Ali belum terlalu ramai. Aroma kopi hitam bercampur gorengan panas. Di sudut meja, beberapa orang sedang membuka ponsel, membaca berita, lalu sesekali menggelengkan kepala.
Bang Ali:
“Sudahlah, hari ini jangan ngomong politik dulu. Kepala saya sudah penuh. Tiap buka berita, ada drama politik. Belum lagi cerita korupsi para elite. Kalau dipikir terus, rambut bisa ubanan sebelum waktunya.”
Mbah Bejo:
“Lha terus mau ngomong apa, Bang?”
Bang Ali:
“Wisata! Kita kabur sebentar dari hiruk-pikuk dunia. Naik ke Gunung Telomoyo.”
Dony:
“Wah, kalau ke Telomoyo saya siap. Katanya dari atas bisa melihat gunung-gunung lain dan Rawa Pening.”
Yusuf:
“Betul. Kalau cuaca cerah, pemandangannya luar biasa. Ada Gunung Ungaran, Merbabu, Sumbing, bahkan Rawa Pening terlihat indah dari ketinggian.”
Gogon:
“Berarti cocok buat orang yang sedang mumet. Daripada marah-marah lihat berita, mending lihat awan.”
Mbah Bejo:
“Jangan lihat awan terus, Gong. Nanti pulangnya lupa jalan.”
Mereka pun tertawa.
Gunung Telomoyo yang berada di kawasan perbatasan Kabupaten Semarang dan Kabupaten Magelang memang menawarkan suasana berbeda. Udara pegunungan, hamparan hijau, perkampungan yang tampak asri, serta panorama pegunungan dari ketinggian menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan.
Dony:
“Bang, kalau tidak kuat naik kendaraan sendiri sampai puncak bagaimana?”
Bang Ali:
“Tenang. Ada jeep wisata yang bisa disewa untuk mengantar pengunjung menuju kawasan puncak. Jadi tidak perlu memaksakan diri.”
Gogon:
“Kalau pakai motor sendiri?”
Bang Ali:
“Nah, ini yang harus diperhatikan. Jangan cuma mengejar puncak, keselamatan dilupakan. Pengendara roda dua harus memastikan kondisi kendaraan benar-benar prima. Terutama motor matik, medan turunan panjang perlu diwaspadai karena risiko rem panas dan kehilangan daya pengereman bisa terjadi.”
Mbah Bejo:
“Jadi prinsipnya sederhana: kalau kendaraan tidak yakin, jangan sok jago.”
Yusuf:
“Nah, itu baru nasihat Mbah Bejo yang masuk akal.”
“Lho, biasanya nasihat saya juga masuk akal!” protes Mbah Bejo.
Tawa kembali pecah.
Sesampainya di kawasan puncak, pengunjung juga tidak perlu khawatir soal makanan dan minuman. Deretan warung dan UMKM warga menyediakan berbagai jajanan, minuman, makanan ringan hingga pernak-pernik yang bisa menjadi oleh-oleh.
Harga yang relatif terjangkau membuat wisatawan bisa menikmati suasana puncak tanpa harus takut kantong ikut mendaki.
Bang Ali:
“Jadi wisata itu tidak harus mahal. Kadang yang kita butuhkan cuma udara segar, pemandangan bagus, secangkir kopi, dan teman ngobrol yang tidak bikin emosi.”
Gogon:
“Berarti Bang Ali cocok tinggal di Telomoyo.”
Bang Ali:
“Boleh. Tapi kalau semua wartawan pindah ke gunung, siapa yang memberitakan kelakuan orang-orang di bawah?”
Mbah Bejo:
“Nah! Itu baru Bang Ali. Mau refreshing tetap saja pikirannya berita.”
Kembali mereka tertawa.
Telomoyo dan Pelajaran Sederhana
Di tengah kehidupan yang penuh kebisingan, terkadang manusia memang perlu berhenti sejenak.
Bukan berarti lari dari persoalan. Bukan pula berarti tidak peduli dengan keadaan. Hanya memberi kesempatan kepada pikiran untuk beristirahat.
Gunung Telomoyo menawarkan ruang itu.
Dari atas sana, hiruk-pikuk kehidupan terlihat semakin kecil. Rumah-rumah penduduk tampak mungil di antara pepohonan. Gunung-gunung berdiri gagah di kejauhan. Rawa Pening membentang indah.
Mungkin dari ketinggian itulah kita belajar satu hal:
Masalah yang terlihat besar dari bawah, kadang terasa lebih kecil ketika kita berani mengambil jarak.
Bang Ali:
“Sudah, kopi habis. Besok kita liputan Telomoyo.”
Yusuf:
“Siap!”
Dony:
“Siap!”
Gogon:
“Siap!”
Mbah Bejo:
“Saya siap... tapi jangan suruh naik motor matik ke puncak.”
“Lha kenapa, Mbah?”
“Rem saya saja sudah blong kalau lihat harga gorengan sekarang!”
Warung redaksi pun kembali pecah oleh tawa.
Lek gito