CORETAN BANG_ALI : Ngopi Bareng Mbah Joyo: Dana BOP, Seremonial Jalan Terus, Inventaris Kampung Gigit Jari
Almassakanusantara.com. Pagi itu langit begitu ramah. Matahari baru naik sepenggalah, sinarnya hangat, belum menyengat. Angin masih membawa aroma embun yang bercampur harum kopi hitam dari warung kecil di depan rumah.
Warung itu memang bukan sekadar tempat jualan sarapan. Di salah satu sudut, saya sengaja membuat pojok kecil berisi meja kayu, kursi sederhana, colokan listrik, dan kipas angin. Di situlah markas menulis. Sambil mengetik berita, sesekali kepala mendongak melihat siapa yang datang membeli nasi rames, gorengan, atau sekadar kopi sachet. Kalau istri sedang keluar belanja, saya otomatis merangkap jadi kasir.
Belum lama jari-jari menari di atas keyboard, terdengar suara khas dari luar.
"Pagi Bang... piye kabare?"
Saya menoleh. Ternyata Mbah Joyo.
Usianya sudah kepala enam lebih, tetapi langkahnya masih gesit. Hampir setiap pagi beliau keliling kampung. Katanya, jogging adalah obat paling murah.
"Sehat ki kudu digerakno, dudu mung dipikirke," begitu prinsip hidupnya.
Saya tersenyum.
"Alhamdulillah apik, Mbah. Makin seger mawon. Monggo pinarak, ngopi rumiyin."
Tanpa sungkan beliau duduk, mengeluarkan sebungkus rokok Dji Sam Soe kretek dari saku kemeja lusuhnya. Sebatang disulut. Asap mengepul pelan, lalu obrolan mengalir ke mana-mana.
Mulai harga cabai, cuaca yang makin sulit ditebak, ayam tetangga yang hobi bertelur di pekarangan orang, sampai politik kampung yang kadang lebih panas daripada rapat DPR.
Lalu sampailah pembicaraan pada topik yang sedang ramai.
Dana BOP RT.
"Bang... yen tak pikir-pikir maksude Bu Wali Kota ki piye yo? Jare RT dikekke dana nganti puluhan yuta, kok nggunakke-ne menurutku kurang pas."
Saya meletakkan gelas kopi.
"Kurang pas pripun, Mbah?"
Beliau mengembuskan asap rokok perlahan.
"Lha dana semono kok luwih akeh kanggo acara-acara seneng-seneng. Padahal sakdurunge ono BOP, warga wis iso nggawe acara pitulasan, halal bihalal, lomba-lomba nganggo urunan. Ora nganggo dana pemerintah yo tetep rame."
Saya mengangguk pelan.
"Lha terus saene kanggo nopo, Mbah? Piknik?"
Mbah Joyo tertawa.
"Yo ora ngono, Le..."
Beliau lalu menunjuk ke arah jalan kampung.
"Deloken kuwi. Gapura wis miring. Tenda lingkungan ora duwe. Kursi nek ono wong tilar donya nyilih RT sebelah. Mesin potong rumput ora duwe. Selang banyu rusak. Sound system nyewa terus. Wong dijak urunan tuku barang-barang kuwi wae akeh sing semoyo. Nah saiki malah tambah angel. Jawabane mung siji... 'kan ono dana BOP'. Nanging pas arep tuku barang, jebul aturane ora oleh. Yo mumet ta?"
Saya spontan tertawa.
Lucu memang.
Di satu sisi masyarakat berharap dana itu bisa dipakai membeli perlengkapan yang manfaatnya bertahun-tahun.
Di sisi lain, aturan justru membatasi penggunaan dana untuk pembelian inventaris tertentu, sehingga yang lebih mudah dilakukan adalah membiayai kegiatan-kegiatan seremonial.
Akhirnya yang sering terlihat adalah spanduk baru, lomba baru, konsumsi baru, dokumentasi baru.
Sementara tenda masih pinjam.
Kursi masih pinjam.
Mesin rumput tetap pinjam.
Bahkan kalau ada warga meninggal dunia, perlengkapan kadang masih muter kampung mencari pinjaman.
Mbah Joyo kembali menyeruput kopi.
"Iki lucu lho Bang. Nek acara, kabeh semangat. Nek kerja bakti, sepi. Jare wis ono dana. Suk-suk ojo nganti nyapu got wae ngenteni proposal."
Kami sama-sama tertawa.
Namun di balik candaan itu tersimpan kegelisahan.
Dana BOP tentu merupakan kebijakan yang bertujuan baik untuk memperkuat peran RT dalam melayani masyarakat. Namun di tingkat pelaksanaan, banyak warga berharap penggunaannya juga mampu menjawab kebutuhan nyata di lingkungan.
Sebab yang dibutuhkan kampung bukan hanya seremoni yang selesai dalam sehari.
Tetapi juga sarana yang bisa dipakai bertahun-tahun.
Tenda yang menaungi warga saat hajatan maupun musibah.
Kursi yang tidak perlu lagi meminjam ke kampung sebelah.
Mesin potong rumput agar lingkungan tetap rapi.
Peralatan kebersihan.
Lampu penerangan.
Perlengkapan yang manfaatnya dirasakan setiap hari.
Apalagi bulan ini dana BOP mulai dicairkan. Percakapan seperti ini mulai terdengar di banyak warung kopi, gardu ronda, hingga teras rumah warga.
Barangkali memang sudah saatnya evaluasi dilakukan.
Karena membangun kampung tidak cukup hanya dengan acara yang meriah.
Kampung juga membutuhkan alat untuk bekerja, bukan hanya anggaran untuk berpesta.
Mbah Joyo kemudian berdiri sambil menepuk bahu saya.
"Wis tak lanjut jogging maneh. Nek kesuwen neng kene, mengko bojomu ngira aku ngutang kopi."
Saya pun tertawa.
Beliau melangkah pergi dengan langkah yang tetap ringan.
Saya kembali menatap layar komputer.
Kopi tinggal separuh.
Tulisan bertambah panjang.
Dan saya kembali sadar...
Ternyata obrolan paling jujur tentang pembangunan sering lahir bukan di ruang rapat ber-AC, melainkan di warung kecil, ditemani secangkir kopi dan sebatang kretek.
Related Articles