Beda Hitungan, Satu Niat: Warga Aboge Lemah Ireng Kalisalak Gelar Tirakatan 1 Suro demi Ketenteraman Desa

Budaya 18 Jun 2026 02:11 2 min read 256 views By Bang_Ali

Share berita ini

Beda Hitungan, Satu Niat: Warga Aboge Lemah Ireng Kalisalak Gelar Tirakatan 1 Suro demi Ketenteraman Desa
"Beda hitungan, tetap satu niat: memohon keselamatan dan ketenteraman bagi kampung halaman."

ALMASSAKANUSANTARA. COM- Bawen, 17 Juni 2026 – Saat sebagian besar masyarakat Jawa telah memperingati malam 1 Suro pada Senin (16/6/2026), warga penganut tradisi Aboge di Dusun Lemah Ireng, Desa Kalisalak, Kecamatan Bawen, Kabupaten Semarang, justru menggelar tirakatan dan selamatan tolak balak pada Selasa malam (17/6/2026).

 

Perbedaan waktu tersebut tidak mengurangi makna peringatan Tahun Baru Jawa. Bagi masyarakat Aboge, malam tirakatan merupakan wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa sekaligus ikhtiar memohon keselamatan, ketenteraman, dan keberkahan bagi seluruh warga dusun.

 

Kalangan Aboge menggunakan perhitungan kalender Alif Rebo Wage (Aboge) yang memiliki perbedaan satu hari dengan penanggalan yang digunakan pemerintah maupun organisasi keagamaan pada umumnya. Tahun ini, 1 Muharam 1448 Hijriah menurut perhitungan Aboge jatuh pada Rabu Wage, 18 Juni 2026.

 

Tokoh masyarakat setempat, Ki Tugiono, mengatakan bahwa perbedaan penanggalan bukanlah persoalan, karena tujuan yang ingin dicapai tetap sama, yakni mendekatkan diri kepada Tuhan dan memohon keselamatan bersama.

"Kulo tiyang Aboge ngetung 1 Surone beda karo liyan, nanging tujuane podo. Nyenyuwun slamet, nyuwun resik ati, lan nyuwun tentrem Dusun Kalisalak Lemah Ireng sak lawase. Beda tanggal, nanging siji Gusti," ujarnya.

 

Suasana tirakatan berlangsung sederhana namun penuh kehangatan. Warga duduk lesehan dalam kebersamaan sambil menikmati tumpeng, jenang abang putih, kopi, serta aneka jajanan pasar yang disajikan sebagai simbol rasa syukur.

 

Acara diisi dengan dzikir, renungan malam, dan doa bersama. Melalui tradisi turun-temurun tersebut, masyarakat memohon agar Dusun Kalisalak dijauhkan dari berbagai musibah, bencana, wabah penyakit, serta diberikan kelancaran rezeki dan kehidupan yang tenteram.

 

Tradisi yang masih lestari di tengah perkembangan zaman ini menjadi bukti bahwa keragaman budaya merupakan kekayaan yang memperkuat persatuan masyarakat. Perbedaan penanggalan antara kalender Aboge dengan kalender nasional tidak menjadi sumber perpecahan, melainkan menjadi pelajaran tentang toleransi dan saling menghormati.

 

Falsafah Jawa “beda cara nanging siji tujuan” tampak hidup dalam kebersamaan warga Dusun Lemah Ireng malam itu.

 

Menjelang tengah malam, rangkaian tirakatan ditutup dengan doa bersama. Warga berharap datangnya 1 Suro membawa energi baru, keberkahan, serta kehidupan yang semakin rukun dan damai bagi seluruh masyarakat tanpa membedakan keyakinan dan tradisi.

 

"Beda hitungan, tetap satu niat: memohon keselamatan dan ketenteraman bagi kampung halaman."

Almassaka Nusantara
Chat with us on WhatsApp