Hujan Dua Hari, Jalan Penghubung Antar Dusun di Bawen Longsor: Warga Terpaksa Memutar Jauh

Ragam dan Peristiwa 01 May 2026 21:32 2 min read 172 views By Bang Ali

Share berita ini

Hujan Dua Hari, Jalan Penghubung Antar Dusun di Bawen Longsor: Warga Terpaksa Memutar Jauh
Akses jalan terputus membuat masyarakat terisolasi

Bawen --//ASNNEWS//-- Hujan deras yang mengguyur wilayah Bawen, Kabupaten Semarang, selama dua hari terakhir membawa dampak serius bagi warga. Tanah longsor terjadi di jalur penghubung Dusun Geyongan, Kandangan menuju Dusun Jatikurung, Kecamatan Pringapus. Akibatnya, badan jalan amblas dan tidak dapat dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat.

 

Peristiwa ini bukan sekadar gangguan akses biasa. Jalan yang selama ini menjadi urat nadi aktivitas warga mendadak lumpuh. Anak-anak sekolah terlambat berangkat, petani kesulitan menuju lahan, hingga pekerja harus mencari jalur alternatif yang lebih jauh dan memakan waktu.

 

Untuk sementara, warga secara swadaya memasang rambu-rambu sederhana di tengah jalan demi mencegah kecelakaan. Kondisi jalan yang ambles cukup membahayakan, terlebih saat malam hari dan hujan kembali turun.

 

Warga berharap Pemerintah Kabupaten Semarang melalui BPBD, Dinas Pekerjaan Umum, serta pemerintah setempat segera turun tangan melakukan penanganan darurat. Tidak hanya memperbaiki jalan yang longsor, tetapi juga mencarikan jalur alternatif yang aman agar aktivitas masyarakat bisa kembali berjalan normal.

 

Bencana ini kembali menjadi pengingat bahwa persoalan lingkungan tidak bisa dipandang sebelah mata. Longsor di kawasan perbukitan dan tebing kerap berulang setiap musim hujan, namun penanganannya sering kali baru ramai setelah akses putus dan warga terdampak langsung.

 

Salah satu warga, Tugiyono, menyampaikan pentingnya menjaga kawasan rawan longsor, terutama daerah bertanah labil dan bertebing. Menurutnya, keberadaan pepohonan dan tanaman keras sangat penting untuk menahan pergerakan tanah.

“Jangan sampai pohon ditebang sembarangan. Lingkungan harus dijaga bersama demi keselamatan warga. Kalau alam dirusak, dampaknya kembali ke masyarakat sendiri,” ujarnya.

 

Pernyataan tersebut menjadi kritik yang patut direnungkan bersama. Di tengah maraknya pembangunan dan pembukaan lahan, keseimbangan alam sering kali kalah oleh kepentingan sesaat. Padahal, akar pohon bukan hanya bagian dari hutan, tetapi juga penyangga kehidupan warga di bawahnya.

 

Masyarakat kini menunggu langkah nyata pemerintah. Sebab bagi warga desa, jalan bukan sekadar cor dan aspal, melainkan jalur ekonomi, pendidikan, dan harapan hidup sehari-hari. Jika akses terputus terlalu lama, yang ikut lumpuh bukan hanya kendaraan, tetapi juga roda kehidupan masyarakat.

 

Almassaka Nusantara
Chat with us on WhatsApp