Ribuan Umat Katolik Padati Jalanan, Perarakan Patung Bunda Maria 2026 Warnai Kota Salatiga Penuh Damai
SALATIGA —ASNNews-- Lautan cahaya lilin menerangi ruas-ruas jalan Kota Salatiga saat ribuan umat Katolik mengikuti Perarakan Patung Bunda Maria 2026, Minggu malam. Prosesi religius yang berlangsung khidmat itu tidak hanya menjadi momentum devosi iman, tetapi juga simbol kuat toleransi dan persaudaraan antarumat beragama di kota berhawa sejuk tersebut.
Perarakan yang digelar oleh Rumah Retret Biara Kana menjadi puncak rangkaian kegiatan Bulan Maria. Ribuan umat tampak berjalan tertib sambil membawa lilin menyala, melantunkan lagu pujian, dan mendaraskan doa Rosario sepanjang perjalanan. Suasana hening penuh penghayatan menyelimuti kota, menghadirkan nuansa spiritual yang menyentuh hati masyarakat yang menyaksikan.
Tradisi Perarakan Patung Bunda Maria sendiri merupakan bentuk penghormatan umat Katolik kepada Santa Perawan Maria, Bunda Tuhan. Melalui prosesi ini, umat diajak memperkuat iman, mempererat persaudaraan, serta memanjatkan doa bagi kedamaian dan kesejahteraan masyarakat.
Tahun ini, perarakan terasa semakin istimewa karena turut menjadi ungkapan syukur atas terjaganya kerukunan dan toleransi di Salatiga. Kota yang selama ini dikenal sebagai salah satu daerah dengan kehidupan antarumat beragama yang harmonis itu kembali menunjukkan wajah persaudaraan yang nyata.
Acara diawali dengan seremoni pembukaan yang dihadiri Ketua DPRD Kota Salatiga, jajaran Forkopimda, perwakilan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), para Romo, Bruder, dan Suster, hingga tokoh masyarakat dari berbagai latar belakang.
Rute perarakan dimulai dari Pendopo DPRD Kota Salatiga menuju kompleks Pemerintah Kota, kemudian mengelilingi Lapangan Pancasila, melintasi Jalan Sukowati, Jalan Jenderal Sudirman, Jalan Senjoyo, hingga Jalan Dr. Muwardi sebelum kembali ke Rumah Retret Biara Kana.
Sepanjang jalur yang dilalui, masyarakat tampak antusias menyaksikan prosesi. Tidak sedikit warga dari berbagai agama turut membantu menjaga ketertiban dan memberikan dukungan sebagai bentuk penghormatan terhadap kegiatan keagamaan tersebut. Pemandangan itu menjadi potret nyata bahwa keberagaman di tengah masyarakat dapat tumbuh harmonis dalam semangat saling menghormati.
Keamanan kegiatan juga berlangsung maksimal berkat pengamanan terpadu dari jajaran kepolisian, TNI, Dinas Perhubungan, Satpol PP, tenaga kesehatan, relawan, hingga dukungan masyarakat lintas agama.
Perarakan Patung Bunda Maria 2026 bukan sekadar tradisi keagamaan, melainkan juga pesan kuat tentang pentingnya menjaga kedamaian, toleransi, dan persatuan di tengah keberagaman. Di tengah derasnya arus perbedaan, Kota Salatiga kembali menunjukkan bahwa kerukunan bukan hanya slogan, tetapi budaya yang hidup dan terus dirawat bersama.
Related Articles