Budaya Featured

Merti Dusun Ngogak: Guyub Rukun Mbangun Dusun, Merawat Budaya dan Menjaga Masa Depan Desa

Share berita ini
Merti Dusun Ngogak: Guyub Rukun Mbangun Dusun, Merawat Budaya dan Menjaga Masa Depan Desa
Merti Dusun Ngogak: Guyub Rukun Mbangun Dusun, Merawat Budaya dan Menjaga Masa Depan Desa
“Guyub rukun bukan sekadar slogan. Dari kebersamaan masyarakat, pembangunan dusun bisa berjalan dan budaya leluhur tetap hidup,” demikian semangat yang mengemuka dalam kegiatan tersebut.

BANYUBIRU, KABUPATEN SEMARANG – ASNNEWS-- Tradisi bukan sekadar seremoni. Di tengah derasnya perubahan zaman, tradisi justru menjadi pengingat bahwa sebuah dusun dibangun bukan hanya dengan infrastruktur, tetapi juga dengan kebersamaan, gotong royong dan rasa memiliki.

Semangat itulah yang terasa dalam Merti Dusun Ngogak dengan mengusung tema “Guyub Rukun Mbangun Dusun”, yang digelar Sabtu, 8 Agustus 2026, di Lapangan Voli Dusun Ngogak, RT 04/RW 09, wilayah Ngogak, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang.

Kegiatan yang dimulai sekitar pukul 09.00 WIB tersebut berlangsung meriah dan diikuti masyarakat dari berbagai kalangan. Sejumlah tamu undangan turut hadir, di antaranya perwakilan anggota DPRD Kabupaten Semarang, unsur Muspika, serta perangkat desa setempat.

Pembukaan acara diisi sambutan Kepala Desa Ngogak, Sri Anggoro Siswaji. Ia menyampaikan apresiasi kepada seluruh masyarakat, khususnya warga Ngogak dan Ngerapah, yang ikut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut.

Menurutnya, Merti Dusun bukan hanya menjadi ruang untuk mempertahankan tradisi Jawa, tetapi juga menjadi momentum memperkuat semangat gotong royong dalam membangun wilayah.

“Guyub rukun bukan sekadar slogan. Dari kebersamaan masyarakat, pembangunan dusun bisa berjalan dan budaya leluhur tetap hidup,” demikian semangat yang mengemuka dalam kegiatan tersebut.

Menariknya, kemeriahan Merti Dusun Ngogak tidak lahir dari kemewahan sebuah acara. Kegiatan tersebut justru banyak bertumpu pada swadaya dan partisipasi masyarakat.

Di tengah kondisi ketika kegiatan masyarakat sering diukur dari besar kecilnya anggaran, warga Ngogak menunjukkan bahwa kekuatan sebuah dusun tidak selalu berada di tangan pemerintah. Ada kekuatan sosial yang jauh lebih besar, yakni ketika masyarakat bersedia bergerak bersama.

Semangat itu menjadi penting karena pembangunan desa pada hakikatnya tidak hanya berbicara mengenai jalan, fasilitas umum maupun infrastruktur. Pembangunan juga menyangkut manusia, budaya dan karakter masyarakatnya.

Merti Dusun menjadi salah satu ruang untuk mempertemukan ketiganya.

Budaya Jangan Hanya Jadi Pajangan

Merti Dusun juga menjadi bagian dari upaya nguri-uri budaya Jawa agar tidak tergerus perkembangan zaman.

Generasi muda diberi ruang untuk terlibat langsung sebagai pengisi acara. Ini menjadi pesan penting bahwa pelestarian budaya tidak cukup hanya dilakukan oleh generasi tua.

Budaya akan tetap hidup apabila anak-anak muda mengenal, mencintai dan merasa memiliki warisan leluhurnya.

Jika generasi muda hanya mengenal budaya dari buku atau media sosial, sementara tidak pernah terlibat langsung dalam tradisi di lingkungan sendiri, maka ada risiko budaya perlahan berubah menjadi sekadar simbol.

Karena itu, keterlibatan kaum muda dalam Merti Dusun Ngogak menjadi bagian penting dari regenerasi budaya.

Budaya bukan untuk dipajang, tetapi untuk dihidupkan.

Dari Guyub Rukun Menuju Kemandirian Dusun

Tema “Guyub Rukun Mbangun Dusun” juga membawa pesan yang lebih luas. Masyarakat ingin menjadikan Ngogak sebagai wilayah yang terus berkembang, baik dalam pembangunan infrastruktur maupun sektor pertanian.

Potensi pertanian, khususnya produksi padi dan semangat menuju swasembada pangan, menjadi bagian dari harapan masyarakat.

Jika potensi pertanian dapat dikelola dengan baik, bukan hanya ketahanan pangan yang diperkuat, tetapi juga dapat membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.

Dengan demikian, gotong royong tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Semangat tersebut diharapkan bisa diterjemahkan dalam kerja nyata: memperkuat pertanian, menjaga lingkungan, membangun infrastruktur dan membuka ruang ekonomi bagi masyarakat.

Antusiasme Warga Jadi Modal Sosial

Antusiasme warga terlihat sepanjang kegiatan. Masyarakat dari dalam maupun luar Dusun Ngogak turut hadir dan mengikuti rangkaian acara hingga selesai sekitar tengah malam.

Bagi masyarakat, Merti Dusun bukan sekadar hiburan. Ada kebanggaan, kebersamaan dan rasa memiliki terhadap wilayah tempat mereka tinggal.

Di tengah kehidupan masyarakat yang semakin individualistis, kegiatan semacam ini menjadi pengingat bahwa dusun tidak akan maju jika warganya berjalan sendiri-sendiri.

Pemerintah memiliki peran penting dalam pembangunan, tetapi masyarakat adalah kekuatan utama yang menentukan hidup atau tidaknya sebuah program di tingkat bawah.

Merti Dusun Ngogak akhirnya bukan hanya tentang mempertahankan tradisi masa lalu. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi refleksi bahwa membangun masa depan tidak harus meninggalkan akar budaya.

Dari sebuah dusun, semangat itu diharapkan dapat menyebar ke wilayah lain di Jawa Tengah.

Guyub dalam budaya, rukun dalam kehidupan, dan bergerak bersama dalam pembangunan.

Sebab ketika masyarakat masih mau bergotong royong, tradisi masih dirawat, dan generasi muda diberi ruang untuk tampil, maka sebuah dusun sesungguhnya sedang membangun lebih dari sekadar jalan dan bangunan.

Mereka sedang membangun jati dir

Chat with us on WhatsApp