Malam 1 Suro: Jangan Hanya Keris yang Dicuci, Hati Pejabat Juga Perlu Dicuci

Budaya 16 Jun 2026 13:23 3 min read 170 views By Bang_Ali

Share berita ini

Malam 1 Suro: Jangan Hanya Keris yang Dicuci, Hati Pejabat Juga Perlu Dicuci
Semoga di malam 1 Suro ini, yang larung ke laut bukan akal sehat, yang hilang bukan rasa malu, dan yang tenggelam untuk selamanya adalah keserakahan serta korupsi.

Almassakanusantara.com- Malam 1 Suro kembali datang. Sebagian masyarakat Jawa menyambutnya dengan tirakatan, doa bersama, membuat tumpeng, bahkan melarung sesaji. Tujuannya sederhana, membersihkan diri, memohon keselamatan, dan berharap tahun yang baru membawa keberkahan.

 

Sayangnya, di negeri ini yang rajin dimandikan justru keris pusaka, sementara mental korupsi masih dibiarkan berkarat.

 

Kalau keris saja setiap tahun dicuci agar tetap bertuah, seharusnya pejabat juga sesekali mencuci hati dan pikirannya. Sebab yang membuat rakyat sengsara bukan keris yang berkarat, melainkan nurani yang sudah lama tidak diservis.

 

Korupsi di Indonesia sudah seperti warung makan Padang, cabangnya ada di mana-mana. Bedanya, kalau rumah makan Padang membuat rakyat kenyang, korupsi justru membuat rakyat pusing tujuh keliling.

 

Lucunya, setiap kali ada pejabat tertangkap, semua mengaku kaget. Padahal rakyat sudah lama curiga. Rakyat kecil bahkan lebih hafal nama tersangka korupsi daripada hafal pemain tim nasional.

 

Kadang rakyat sampai bingung, apakah jabatan itu amanah atau lomba siapa yang paling cepat mengumpulkan kekayaan sebelum masa jabatan habis.

 

Sumpah jabatan pun sering terdengar begitu sakral. Ada nama Tuhan disebut, ada kitab suci dipegang, ada janji mengabdi kepada bangsa dan negara. Tetapi entah mengapa, setelah duduk di kursi empuk, sebagian orang seperti terkena amnesia. Yang diingat hanya fasilitas, tunjangan, dan proyek.

 

Rakyat pun hanya bisa tersenyum pahit.

Sebab yang aneh di negeri ini, ketika harga cabai naik, rakyat diminta sabar. Ketika pajak naik, rakyat diminta memahami keadaan. Ketika ekonomi sulit, rakyat diminta berhemat.

 

Tetapi ketika pejabat korupsi, yang naik justru koleksi mobil mewah dan saldo rekening.

Lebih lucu lagi, kritik rakyat sering dianggap kebencian. Padahal rakyat marah bukan karena benci negaranya. Justru karena terlalu cinta kepada Indonesia sehingga tidak rela melihat uang rakyat diperlakukan seperti uang warisan pribadi.

 

Rakyat sebenarnya tidak menuntut pejabat menjadi manusia sempurna. Tidak perlu sakti seperti Gatotkaca, tidak perlu bijaksana seperti Semar.

 

Cukup jangan menganggap APBN sebagai ATM keluarga dan jangan menjadikan jabatan sebagai kesempatan balas dendam kepada masa lalu yang serba kekurangan.

 

Malam 1 Suro seharusnya menjadi saat yang tepat untuk merenung.

Bahwa jabatan itu hanya sementara.

Bahwa kekuasaan ada batas waktunya.

Bahwa uang sebanyak apa pun tidak bisa menyuap malaikat.

 

Dan bahwa rakyat mungkin bisa dibohongi dengan pidato, tetapi sejarah tidak pernah lupa mencatat siapa yang bekerja untuk rakyat dan siapa yang bekerja untuk rekeningnya sendiri.

 

Orang Jawa punya pesan sederhana:

"Sing salah kudu seleh, sing serakah kudu eling."

Yang salah harus mengalah, yang serakah harus sadar.

Karena sesungguhnya rakyat Indonesia tidak meminta banyak.

 

Rakyat hanya ingin pejabat yang kalau berbicara tidak membuat emosi naik, kalau berjanji tidak sekadar pencitraan, dan kalau mengambil keputusan masih ingat bahwa yang mereka kelola adalah uang rakyat, bukan hasil menang arisan.

 

Semoga di malam 1 Suro ini, yang larung ke laut bukan akal sehat, yang hilang bukan rasa malu, dan yang tenggelam untuk selamanya adalah keserakahan serta korupsi.

 

Sebab Indonesia tidak kekurangan orang pintar.

Indonesia hanya sedang merindukan lebih banyak orang yang takut kepada Tuhan ketika tidak ada kamera dan tidak ada wartawan.

Almassaka Nusantara

Recent Articles

Popular Articles

Chat with us on WhatsApp