Candi Ngempon, Jejak Peradaban Mataram Kuno di Lereng Ungaran yang Sarat Misteri

Budaya 28 May 2026 19:32 4 min read 128 views By Bang_Ali

Share berita ini

Candi Ngempon, Jejak Peradaban Mataram Kuno di Lereng Ungaran yang Sarat Misteri
Menurut penuturan masyarakat Jawa, nama “Ngempon” diyakini berasal dari kata “pangempu para empu” atau “impon” yang berarti menghimpun dan berkumpul. Tempat tersebut dipercaya sebagai lokasi penggemblengan para brahmana dan kaum empu oleh seorang guru spiritual terpilih.

KABUPATEN SEMARANG — ALMASSAKANUSANTARA.COM--  Di tengah udara sejuk lereng Gunung Ungaran dan hamparan pemandangan alami pedesaan, berdiri sebuah situs bersejarah peninggalan era Mataram Kuno yang masih menyimpan banyak kisah dan misteri. Situs tersebut adalah Candi Ngempon, sebuah kompleks candi Hindu kuno yang berada di Dusun Klego, Desa Ngempon, Kabupaten Semarang.

 

Terletak di sisi timur jalur utama Semarang–Solo–Yogyakarta dan berjarak sekitar lima kilometer dari jalan raya utama, Candi Ngempon menjadi salah satu warisan budaya penting di Kabupaten Semarang yang hingga kini terus menarik perhatian para peneliti sejarah maupun wisatawan pencinta budaya.

 

Ditemukan Petani Saat Mencangkul Sawah

Sejarah penemuan Candi Ngempon bermula pada tahun 1952. Kala itu, seorang petani bernama Kasri bersama kakeknya menemukan batu andesit berbentuk persegi saat mencangkul sawah miliknya. Temuan tersebut kemudian dilaporkan kepada perangkat desa setempat.

 

Laporan itu langsung mendapat perhatian dari pihak Dinas Cagar Budaya dan para arkeolog. Setelah dilakukan penelitian dan penggalian, ditemukan sembilan pondasi candi serta sepuluh arca kuno yang diperkirakan berasal dari abad ke-9, masa kejayaan Kerajaan Mataram Kuno bercorak Hindu.

 

Menurut penuturan masyarakat Jawa, nama “Ngempon” diyakini berasal dari kata “pangempu para empu” atau “impon” yang berarti menghimpun dan berkumpul. Tempat tersebut dipercaya sebagai lokasi penggemblengan para brahmana dan kaum empu oleh seorang guru spiritual terpilih.

 

Pada masa Mataram Kuno, gelar empu bukanlah jabatan biasa. Empu merupakan tokoh penting dengan kedudukan tinggi dalam kerajaan, seperti Empu Tantular, Empu Sendok, Empu Daksa, hingga Empu Manuku.

 

Relief Satwa dan Kisah Kehidupan

Menyusuri lebih dekat kompleks Candi Ngempon, pengunjung akan menemukan berbagai relief bernilai seni tinggi. Relief-relief tersebut didominasi motif flora dan satwa seperti gajah, rusa, kancil, hingga burung.

Menariknya, ditemukan pula relief Kinara Kinari, makhluk surgawi berbadan setengah burung dalam mitologi Hindu, serta sosok Kala Kerthi Murka yang dikenal sebagai penguasa hutan.

Di setiap bangunan candi terdapat relung-relung dewata yang diyakini dahulu berisi arca-arca penjaga seperti Arca Ganesha, Arca Durga, dan Arca Nandi. Namun untuk alasan keamanan dan pelestarian, sebagian arca berukuran sekitar satu meter kini dipindahkan ke Museum Ronggowarsito Semarang karena situs Candi Ngempon masih dalam tahap restorasi.

 

Pertirtaan Derekan dan Tempat Penyucian Diri

Tidak jauh dari kompleks candi, terdapat situs pemandian kuno berupa pertirtaan air hangat Derekan yang dipisahkan oleh aliran sungai.

Dalam bahasa Jawa kuno, “Derekan” diartikan sebagai sendang atau tempat pemandian. Lokasi ini diyakini menjadi tempat penyucian diri para brahmana sebelum menjalankan ritual spiritual.

Keberadaan pertirtaan tersebut semakin memperkuat dugaan bahwa kawasan Ngempon dahulu merupakan pusat pengajaran dan penggemblengan kaum brahmana di era Mataram Kuno.

 

Pertemuan Dua Sungai dan Aura Mistis

Di sekitar lokasi juga terdapat pertemuan dua aliran sungai atau yang oleh warga disebut “tempukan”. Dalam tradisi Jawa kuno, tempat pertemuan sungai dipercaya memiliki energi spiritual besar dan sering dijadikan lokasi laku tirakat maupun penggemblengan ilmu.

 

Berbagai fakta sejarah dan kondisi geografis kawasan tersebut membuat banyak pihak meyakini bahwa Candi Ngempon bukan sekadar tempat ibadah, tetapi juga pusat pendidikan spiritual dan kebudayaan pada zamannya.

 

Empat Candi Berdiri, Lima Pondasi Masih Misterius

Hingga kini, dari sembilan pondasi yang ditemukan, baru empat bangunan candi yang berhasil dipugar. Salah satu candi utama tampak lebih besar dibanding lainnya dan berdiri menghadap selatan dan utara.

 

Sementara lima pondasi lain masih belum direstorasi dan terlihat menumpuk di area sekitar situs. Relief-relief yang ditemukan di kompleks tersebut diyakini menggambarkan kisah Tantri Kamandaka, cerita moral kuno yang mengajarkan nilai-nilai kebaikan dan kebijaksanaan hidup.

 

Minim Perhatian dan Fasilitas Wisata

Warga sekitar berharap pemerintah daerah lebih serius mengembangkan kawasan Candi Ngempon dan Pertirtaan Derekan sebagai destinasi wisata sejarah dan edukasi budaya.

 

Menurut warga yang ditemui di lokasi, pengelolaan dan fasilitas penunjang wisata di kawasan tersebut masih sangat minim. Padahal potensi wisata sejarah yang dimiliki sangat besar jika dikembangkan secara maksimal.

 

“Kalau dikelola lebih baik, wisatawan pasti akan meningkat. Anak-anak sekolah juga bisa belajar sejarah langsung di tempatnya,” ujar salah satu warga.

 

Selain Candi Ngempon, Kabupaten Semarang juga memiliki banyak situs candi dan arca kuno yang tersebar di berbagai wilayah. Potensi besar tersebut dinilai layak didorong agar pariwisata budaya di Kabupaten Semarang semakin berkembang sekaligus menjadi sarana edukasi generasi muda untuk mengenal sejarah leluhur Nusantara.

 

Di balik kesunyian lereng Ungaran, Candi Ngempon terus berdiri sebagai saksi bisu kejayaan peradaban Mataram Kuno — menyimpan sejarah, spiritualitas, sekaligus misteri yang perlahan mulai terungkap oleh zaman.

 

Almassaka Nusantara

Recent Articles

Popular Articles

Chat with us on WhatsApp