Religi Breaking Featured

Benteng Pendem Fort Willem I Ambarawa: Di Balik Kemegahannya, Tersimpan Jejak Perjuangan dan Air Mata Para Pejuang

Share berita ini
Benteng Pendem Fort Willem I Ambarawa: Di Balik Kemegahannya, Tersimpan Jejak Perjuangan dan Air Mata Para Pejuang
Benteng Pendem Fort Willem I Ambarawa: Di Balik Kemegahannya, Tersimpan Jejak Perjuangan dan Air Mata Para Pejuang
Di balik tembok benteng yang tebal, KH Mahfud Salam menjalani masa tahanan hingga akhir hayatnya pada tahun 1942.

AMBARAWA, 5 Agustus 2026 — Di balik kokohnya tembok bata dan lorong-lorong tua Benteng Fort Willem I atau yang lebih dikenal masyarakat sebagai Benteng Pendem Ambarawa, tersimpan kisah panjang tentang penjajahan, penderitaan rakyat, sekaligus perjuangan para tokoh bangsa melawan ketidakadilan.

Benteng yang berada di Desa Lodoyong, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang, tersebut kini mulai dikenal sebagai salah satu destinasi wisata sejarah. Namun, jauh sebelum menjadi tempat yang menarik untuk dikunjungi dan berswafoto, benteng ini pernah menjadi tempat penahanan para pejuang yang berhadapan dengan kekuasaan kolonial Belanda.

Salah satu nama yang meninggalkan jejak sejarah di tempat tersebut adalah Kyai Haji Mahfud Salam, ulama dan tokoh perjuangan yang berasal dari Pati, Jawa Tengah.

Perjuangan Berawal dari Penderitaan Ekonomi Rakyat

Perjuangan KH Mahfud Salam disebut tidak semata-mata bermula dari perlawanan fisik. Perjuangan itu berawal dari kepeduliannya terhadap kondisi ekonomi masyarakat, khususnya para petani kecil di wilayah Pati.

Pada masa kolonial, masyarakat banyak yang menggadaikan barang-barang miliknya melalui lembaga pegadaian untuk mendapatkan modal bercocok tanam. Harapannya sederhana, ketika panen tiba, barang tersebut dapat ditebus kembali.

Namun kondisi pertanian dan perekonomian rakyat yang sulit membuat banyak petani mengalami gagal panen. Akibatnya, mereka tidak mampu menebus barang-barang yang telah digadaikan.

Di tengah kondisi tersebut, KH Mahfud Salam berusaha memperjuangkan kepentingan rakyat dengan melakukan negosiasi kepada pihak kolonial Belanda.

Namun upaya tersebut tidak membuahkan hasil.

Ketika jalur perundingan menemui jalan buntu, perlawanan pun terjadi. Persoalan ekonomi rakyat akhirnya berkembang menjadi persoalan yang lebih besar: perlawanan terhadap sistem kolonial yang dianggap semakin menekan kehidupan masyarakat.

Ditangkap dan Dipenjara di Benteng Pendem

Perjuangan tersebut kemudian membawa KH Mahfud Salam berhadapan langsung dengan pemerintah kolonial.

Ia akhirnya ditangkap dan dipenjara di Benteng Fort Willem I Ambarawa.

Di balik tembok benteng yang tebal, KH Mahfud Salam menjalani masa tahanan hingga akhir hayatnya pada tahun 1942.

Benteng yang hari ini terlihat sebagai bangunan bersejarah dan destinasi wisata itu menjadi saksi bisu perjalanan hidup seorang ulama yang memilih berdiri bersama masyarakat ketika rakyat berada dalam kondisi sulit.

Jejak perjuangan KH Mahfud Salam juga menjadi bagian dari sejarah keluarga besar ulama Indonesia. Ia merupakan ayah dari KH Sahal Mahfudh, tokoh besar Nahdlatul Ulama yang pernah menjabat sebagai Rais Aam PBNU dan juga pernah dipercaya memimpin Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Makam KH Mahfud Salam hingga kini menjadi salah satu tempat yang didatangi peziarah dari berbagai daerah untuk mendoakan dan mengenang jasa perjuangannya.

Benteng Wisata, Tetapi Jangan Kehilangan Ruh Sejarah

Benteng Fort Willem I mulai dibangun pada 1834 dan penyelesaiannya sekitar 1853. Bangunan yang dahulu memiliki fungsi pertahanan dan kemudian menjadi tempat penahanan itu kini telah mengalami revitalisasi dan berkembang sebagai destinasi wisata sejarah serta kawasan kuliner.

Kemegahan arsitekturnya menjadi daya tarik tersendiri. Lorong-lorong panjang, dinding bata yang kokoh, serta bangunan tua membuat pengunjung seolah diajak kembali ke masa lalu.

Namun, ada satu hal yang tidak boleh dilupakan.

Benteng Pendem bukan sekadar bangunan tua untuk berfoto.

Di balik temboknya terdapat cerita tentang manusia yang pernah kehilangan kebebasan. Ada perjuangan, penderitaan, darah, air mata, bahkan kematian para tahanan dan pejuang yang pernah dikurung di dalamnya.

Termasuk kisah KH Mahfud Salam dari Pati.

Karena itu, revitalisasi Benteng Pendem seharusnya tidak hanya berhenti pada aspek fisik dan komersial sebagai destinasi wisata. Jejak sejarah dan kisah para pejuang yang pernah menjadi bagian dari benteng tersebut juga harus dirawat, ditulis, dan disampaikan kepada generasi berikutnya.

Jangan sampai generasi sekarang hanya mengenal Benteng Pendem sebagai bangunan eksotis dengan latar foto yang menarik, tetapi tidak mengetahui bahwa setiap batu dan lorong di dalamnya menyimpan cerita tentang perjuangan manusia menghadapi penindasan.

Benteng Pendem boleh menjadi destinasi wisata. Tetapi sejarahnya jangan sampai dipendam.

Sebab, bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang mampu membangun tempat wisata dari peninggalan masa lalu, melainkan bangsa yang mampu menghormati, merawat, dan menceritakan kembali pengorbanan orang-orang yang pernah berjuang di dalamnya.

Catatan redaksi: sejumlah detail sejarah mengenai KH Mahfud Salam dan hubungan kisah perjuangannya dengan Benteng Fort Willem I perlu diverifikasi lebih lanjut melalui arsip kolonial, dokumen keluarga, serta sumber sejarah lokal agar penulisan sejarah tetap akurat dan dapat dipertanggungjawabkan. 

By Lek Gito

Chat with us on WhatsApp