CORETAN BANG ALI : Juri Keliling Kampung, Srikandi Turun Gunung
SEMARANG — Sabtu sore, 15 Agustus 2026, Bang Ali masih dalam perjalanan pulang dari Ungaran. Belum sempat sampai rumah, telepon berbunyi.
Pesan masuk:
“Bang Ali, diminta mendampingi tim juri penilaian lomba rias kampung.”
Dalam hati sempat berpikir:
“Waduh… niatnya pulang, kok malah dapat tugas negara versi RW?” 😄
Tapi sebagai warga RW 03 yang baik, tentu kurang elok kalau menolak. Apalagi kalau sudah menyangkut kegiatan kampung.
Akhirnya Bang Ali meluncur.
Bukan untuk mencari juara, tetapi mendampingi tim juri yang terdiri dari Ketua TP PKK Kelurahan Bangetayu Wetan, Babinsa Bangetayu Wetan dan perwakilan Kelurahan Bangetayu Wetan.
Penilaian pun berjalan dari satu RT ke RT lainnya.
Dan ternyata…
Suasananya tidak kalah dengan final pertandingan sepak bola.
Bedanya, yang diperebutkan bukan bola, melainkan nilai.
Yang dinilai bukan cuma kampung terlihat cantik.
Ada Taman Toga, kebersihan, keindahan, pemanfaatan limbah, kreativitas, kekompakan dan partisipasi warga.
Nah, pada bagian terakhir inilah Bang Ali mulai tersenyum.
Di beberapa tempat, antusiasme warga luar biasa.
Ada yang sibuk menata lingkungan.
Ada yang menunjukkan hasil kreativitas.
Ada yang menyiapkan yel-yel.
Ada yang ikut menari.
Ada yang mondar-mandir memastikan kampungnya siap dinilai.
Pokoknya ramai.
Namun Bang Ali juga menemukan fenomena menarik.
Yang turun ke lapangan kadang lebih banyak Srikandinya daripada Gatotkacanya. 😄
Ibu-ibu semangat.
Mbak-mbak ikut bergerak.
Anak-anak ikut meramaikan.
Sementara sebagian kaum Adam mungkin sedang mengambil posisi strategis:
mengamati dari kejauhan.
Entah sedang memberikan dukungan moral…
atau sedang menjaga keamanan kursi plastik. 😂
Bang Ali tidak bermaksud menyalahkan kaum lelaki.
Justru ini bisa menjadi bahan bercermin.
Sebab dalam kegiatan kampung, partisipasi warga memang bukan sekadar soal siapa yang hadir ketika juri datang.
Kekompakan dan partisipasi juga menjadi bagian dari penilaian.
Artinya, lomba ini bukan hanya:
“Siapa yang paling bagus menghias kampung?”
Tetapi juga:
“Siapa yang paling mampu menggerakkan warganya?”
Karena mudah membuat taman ketika hanya beberapa orang yang bekerja.
Yang sulit adalah membuat banyak orang merasa bahwa taman itu milik bersama.
Mudah memasang hiasan.
Yang sulit adalah membangun kesadaran bahwa setelah lomba selesai, hiasan boleh dilepas, tetapi kebersihan dan kepedulian jangan ikut dilepas.
Di sinilah lomba sebenarnya memberikan pelajaran.
Jangan sampai semangat gotong royong hanya muncul ketika ada hadiah.
Jangan sampai sapu hanya keluar ketika ada penilaian.
Jangan sampai tanaman dirawat hanya karena ada juri.
Sebab kalau begitu, setelah juri pulang…
kampung kembali “mode biasa”. 😄
Padahal tujuan akhirnya bukan sekadar piala.
Lomba adalah pemantik.
Piala hanyalah bonus.
Yang lebih penting adalah lahirnya kebiasaan baru: warga mau berkumpul, mau bekerja sama, mau peduli terhadap lingkungan dan tidak hanya menjadi penonton.
Dan kalau melihat antusiasme warga RW 03 sore itu, sebenarnya ada modal besar yang sudah dimiliki.
Semangatnya ada.
Kreativitasnya ada.
Srikandinya jelas ada.
Tinggal satu yang perlu diperbanyak:
Gatotkacanya. 😂
Bukan untuk menyaingi Srikandi, tetapi untuk berjalan bersama.
Karena kampung yang kuat bukan kampung yang hanya memiliki banyak orang hebat.
Melainkan kampung yang mampu membuat orang-orang biasa mau bergerak bersama.
Maka jangan hanya bertanya:
“RT kita dapat juara berapa?”
Sesekali tanyakan:
“Saya sudah ikut berbuat apa untuk RT saya?”
Sebab dalam lomba menghias kampung, yang dinilai mungkin lingkungan.
Tetapi yang sesungguhnya sedang diuji adalah kepedulian manusianya.
Siapa juara satu, dua dan tiga?
Kita tunggu pengumumannya pada puncak peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI dalam rangkaian jalan sehat, 30 Agustus 2026.
Namun satu hal sudah terlihat sejak Sabtu sore:
Ketika Srikandi dan Gatotkaca mau turun gunung bersama, RW 03 bukan hanya punya kampung yang indah, tetapi juga punya kekuatan gotong royong.
Dan kalau nanti ada yang bertanya siapa yang paling berjasa?
Bang Ali menjawab sederhana:
“Bukan yang paling banyak bicara. Tetapi yang mau hadir ketika lingkungan membutuhkan tenaga.”
— Coretan Bang Ali —
