Menanam Toleransi dari Hal Sederhana: Sentuhan Humanis Dirut PDAM Kota Salatiga di Hadapan Generasi Muda

Ragam dan Peristiwa 28 Apr 2026 13:03 2 min read 152 views By Bang_Ali

Share berita ini

Menanam Toleransi dari Hal Sederhana: Sentuhan Humanis Dirut PDAM Kota Salatiga di Hadapan Generasi Muda
Dengan bahasa yang sederhana dan tidak menggurui, Imron mengajak para siswa memahami bahwa toleransi bukan sekadar slogan, melainkan sikap hidup sehari-hari

Salatiga, -/almassakanusantara.com/- Pagi itu di halaman SMK Negeri 1 Salatiga terasa berbeda. Upacara bendera yang biasanya berjalan formal, berubah menjadi ruang refleksi yang hangat dan bermakna. Di hadapan ratusan siswa, Imron Cahyadi tidak sekadar berdiri sebagai pembina upacara, tetapi hadir sebagai sosok yang menyapa dengan pendekatan yang dekat dan membumi.

 

Sebagai pimpinan PDAM Kota Salatiga, perannya selama ini identik dengan pelayanan air bersih—sesuatu yang vital namun sering tak terlihat. Namun di momen itu, ia menunjukkan sisi lain kepemimpinan: peduli pada pembentukan karakter generasi muda.

 

Dengan bahasa yang sederhana dan tidak menggurui, Imron mengajak para siswa memahami bahwa toleransi bukan sekadar slogan, melainkan sikap hidup sehari-hari. Ia tidak berbicara dalam kerangka teori yang berat, melainkan melalui contoh-contoh kecil yang dekat dengan kehidupan pelajar—tentang saling menghargai perbedaan, menjaga sikap, dan membangun kebersamaan tanpa sekat.

 

Pendekatan ini membuat pesan yang disampaikan terasa lebih hidup. Para siswa tidak hanya mendengar, tetapi juga merasakan relevansinya. Ada kedekatan emosional yang terbangun—sesuatu yang tidak selalu hadir dalam forum formal seperti upacara bendera.

 

Kehadiran Imron juga memperlihatkan bahwa seorang pemimpin tidak harus selalu berbicara dari balik meja atau ruang rapat. Turun langsung ke sekolah, berdiri di tengah generasi muda, dan berbagi nilai adalah bentuk kepemimpinan yang memberi teladan nyata. Ia menunjukkan bahwa tanggung jawab sosial sebuah institusi tidak berhenti pada layanan utama, tetapi juga mencakup kontribusi terhadap pembangunan manusia.

 

Di kota Salatiga yang selama ini dikenal sebagai simbol toleransi, langkah kecil seperti ini justru memiliki makna besar. Menjaga predikat kota tertoleran bukan hanya tugas pemerintah atau tokoh masyarakat, tetapi juga membutuhkan sentuhan langsung kepada generasi penerus.

 

Apa yang dilakukan Dirut PDAM Kota Salatiga hari itu mungkin terlihat sederhana. Namun dari kesederhanaan itulah nilai-nilai besar ditanamkan—tentang menghargai perbedaan, menjaga harmoni, dan membangun masa depan bersama.

 

Sebab pada akhirnya, toleransi tidak lahir dari wacana besar semata, tetapi tumbuh dari pertemuan-pertemuan kecil yang tulus—seperti pagi itu, ketika seorang pemimpin memilih hadir, menyapa, dan menginspirasi.

Almassaka Nusantara
Chat with us on WhatsApp